Puasa Mengajarkan Kendali Diri, Termasuk dari Provokasi Jalanan

oleh -7 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Aris Pradana *)

Ramadan selalu menghadirkan atmosfer spiritual yang kental, namun di sisi lain, bulan suci ini juga menyuguhkan tantangan nyata bagi ketahanan psikologis masyarakat, terutama saat berada di ruang publik. Fenomena kepadatan lalu lintas menjelang waktu berbuka puasa sering kali menjadi ujian sesungguhnya bagi esensi ibadah itu sendiri. Puasa pada hakikatnya bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah instrumen pendidikan karakter untuk mengendalikan emosi dan ego. Ketika ribuan kendaraan berjejalan di aspal yang panas, godaan untuk bersikap impulsif, melanggar aturan, hingga terjebak dalam pertikaian jalanan menjadi risiko yang tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, sinkronisasi antara kesalehan pribadi dan kepatuhan pada aturan publik menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas ibadah sekaligus keselamatan jiwa di jalan raya.

banner 336x280

Kondisi fisik yang mengalami penurunan kadar gula darah di sore hari sering kali memicu fenomena emosi berlebih atau yang dikenal sebagai road rage. Tekanan untuk segera sampai di rumah demi berbuka bersama keluarga sering kali mengaburkan nalar sehat, sehingga banyak pengendara melakukan manuver berbahaya. Padahal, keselamatan berkendara harus tetap menjadi prioritas absolut yang tidak boleh dikompromikan oleh alasan apa pun. Reorientasi pola pikir menjadi sangat krusial di sini, di mana masyarakat perlu menyadari bahwa berbuka di jalan dengan kondisi selamat jauh lebih mulia daripada memaksakan diri mengebut yang berisiko memicu kecelakaan. Pemerintah melalui berbagai instansi terkait terus mengimbau agar para pengguna jalan mengedepankan kesabaran sebagai bentuk nyata dari implementasi nilai-nilai puasa di ruang publik.

Dalam konteks kebijakan transportasi nasional, ketaatan pada rambu dan etika berkendara adalah bentuk dukungan langsung terhadap agenda pemerintah dalam menekan angka kecelakaan lalu lintas. Direktur Penegakan Hukum Korps Lalu Lintas Polri, Brigjen Pol Raden Slamet Santoso, dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa kedisiplinan di jalan raya merupakan cerminan dari peradaban bangsa. Pada momentum Ramadan ini, kedisiplinan tersebut diuji melalui kemampuan pengendara untuk tidak melakukan manuver zig-zag atau berpindah lajur secara sembarangan. Penggunaan lampu sein minimal tiga detik sebelum berbelok bukan sekadar prosedur teknis, melainkan bentuk komunikasi santun antar-pengguna jalan untuk menghindari kesalahpahaman yang dapat berujung pada bentrokan fisik maupun verbal.

Tantangan berkendara pada momen ini kian kompleks dengan aktifnya Monsun Asia yang membawa curah hujan tinggi, khususnya di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya. Jalanan yang basah dan licin menuntut kewaspadaan ganda karena jarak pengereman kendaraan menjadi jauh lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Dalam situasi seperti ini, penerapan aturan tiga detik untuk menjaga jarak aman menjadi sangat relevan. Kebiasaan menempel kendaraan lain atau tailgating di tengah kemacetan hanya akan meningkatkan stres dan risiko tabrakan beruntun. Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, senantiasa mengingatkan bahwa infrastruktur yang telah dibangun pemerintah hanya akan berfungsi maksimal jika dibarengi dengan perilaku berkendara yang bertanggung jawab dari masyarakat. Mengelola jarak aman adalah manifestasi dari pengendalian diri agar tidak terburu-buru oleh nafsu yang tidak terkontrol.

Provokasi di jalan raya sering kali bermula dari hal sepele, seperti suara klakson yang bersahutan di persimpangan jalan yang padat. Kebisingan ini sering kali memicu emosi negatif yang dapat membatalkan pahala puasa. Untuk meredam hal tersebut, pengelolaan lingkungan internal kendaraan menjadi sangat penting. Suhu kabin yang nyaman secara medis terbukti mampu menekan emisi panas tubuh yang sering menjadi pemantik kemarahan. Dengan menjaga kondisi psikologis tetap stabil, seorang pengendara tidak akan mudah terpancing oleh perilaku provokatif pengendara lain yang mungkin sedang kelelahan atau kehilangan konsentrasi.

Lebih jauh lagi, Ramadan adalah momentum untuk memperkuat empati sosial melalui tindakan nyata di balik kemudi. Memberikan prioritas kepada kendaraan darurat seperti ambulans dan pemadam kebakaran bukan hanya sekadar kepatuhan hukum, melainkan sebuah bentuk sedekah jariyah. Menahan ego untuk tidak menyerobot jalur darurat berarti memberikan kesempatan hidup bagi orang lain yang sedang berada dalam kondisi kritis. Tindakan ini merupakan amal mulia yang melampaui kepentingan pribadi untuk sekadar sampai di rumah tepat waktu. Kepedulian terhadap sesama pengguna jalan, terutama mereka yang sedang dalam keadaan darurat, mencerminkan kontrol diri tingkat tinggi yang menjadi tujuan utama dari ibadah puasa itu sendiri.

Jalan raya adalah laboratorium sosial di mana karakter seseorang diuji secara langsung. Puasa memberikan madrasah bagi setiap individu untuk belajar mengalah demi kepentingan yang lebih besar. Sampai di rumah terlambat beberapa menit namun dalam kondisi selamat jauh lebih baik daripada memaksakan kehendak yang berakhir pada kerugian materiil maupun nyawa. Seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat menjadikan perjalanan pulang sebagai bagian dari rangkaian ibadah yang penuh dengan kesabaran. Dengan mendukung kebijakan pemerintah dalam tertib berlalu lintas, tidak hanya menjaga keselamatan diri sendiri, tetapi juga menghormati hak orang lain untuk merayakan kemenangan Ramadan dengan damai dan penuh keberkahan.

Marilah menjadikan setiap kilometer perjalanan di bulan suci ini sebagai ladang pahala dengan tetap tenang, waspada, dan tidak mudah terprovokasi oleh situasi apa pun yang terjadi di jalanan. Kesabaran adalah perisai, dan di jalan, perisai itu adalah kunci keselamatan bagi semua.

*) Pemerhati Kebijakan Publik dan Praktisi Keselamatan Transportasi Jalan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.