Program Taruna Akmil di Sekolah Rakyat Fokus Cegah Perundungan dan Bangun Kemandirian

oleh -5 Dilihat
banner 468x60

*) Oleh : Gavin Asadit

Pemerintah terus memperkuat desain pembangunan sumber daya manusia melalui pendekatan yang tidak hanya menekankan akses pendidikan, tetapi juga pembentukan karakter dan lingkungan belajar yang sehat. Dalam pengembangan Sekolah Rakyat sebagai salah satu program prioritas sosial, pemerintah mulai memperluas pendekatan pendidikan berasrama dengan menambahkan penguatan pendampingan karakter bagi peserta didik. Salah satu langkah terbaru yang dijalankan pada 2026 adalah pelibatan taruna Akademi Militer (Akmil) untuk mendampingi siswa Sekolah Rakyat dalam proses adaptasi kehidupan berasrama, pembentukan kemandirian, serta pencegahan perundungan. Pemerintah menilai bahwa pendidikan yang efektif tidak cukup hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga harus membangun lingkungan yang aman, tertib, dan mendukung perkembangan karakter peserta didik.

banner 336x280

Program pendampingan tersebut menjadi bagian dari penguatan ekosistem Sekolah Rakyat yang dirancang untuk menjangkau kelompok masyarakat rentan dan memperluas kesempatan pendidikan yang lebih setara. Dalam pelaksanaannya, sekitar 1.000 taruna Akmil tingkat I dan II diterjunkan untuk mendampingi siswa di 178 titik Sekolah Rakyat di berbagai daerah. Pendampingan dijadwalkan berlangsung selama lima hari pada periode 3 – 8 Agustus 2026 dengan pendekatan berbasis kehidupan asrama dan pembiasaan karakter sehari-hari. Pemerintah menegaskan bahwa kehadiran para taruna bukan untuk mengambil alih fungsi guru atau mengubah orientasi pendidikan, melainkan membantu siswa membangun kemampuan adaptasi dan kemandirian sejak awal memasuki lingkungan baru.

Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono menjelaskan bahwa pelibatan taruna dilakukan berdasarkan pengalaman mereka dalam menjalani sistem kehidupan berasrama yang disiplin dan terstruktur. Menurutnya, pengalaman tersebut relevan untuk membantu siswa Sekolah Rakyat yang sebagian besar akan menjalani pola pendidikan berbasis asrama dan membutuhkan proses penyesuaian sosial. Pemerintah melihat masa awal adaptasi menjadi fase penting karena kemampuan siswa untuk merasa aman dan nyaman akan sangat memengaruhi proses belajar dalam jangka panjang. Karena itu, pendampingan difokuskan pada pembentukan kebiasaan positif yang sederhana tetapi memiliki dampak besar terhadap perkembangan karakter anak.

Dalam praktiknya, materi pendampingan tidak diarahkan pada pelatihan militer ataupun kegiatan akademik formal. Taruna akan membimbing siswa dalam berbagai aktivitas keseharian seperti menata tempat tidur, merapikan lemari, menjaga kebersihan diri, menyetrika pakaian, mengatur perlengkapan pribadi, serta membangun kebiasaan hidup yang tertib dan mandiri. Pemerintah memandang pembentukan kebiasaan tersebut sebagai bagian penting dari pendidikan karakter yang selama ini sering kali belum memperoleh ruang yang cukup dalam sistem pembelajaran konvensional. Pendekatan ini juga diharapkan dapat mempercepat proses adaptasi siswa yang tinggal jauh dari keluarga agar tetap merasa nyaman menjalani kehidupan berasrama.

Selain membangun kemandirian, salah satu tujuan utama program ini adalah menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari perundungan. Pemerintah menilai pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan harus dimulai sejak awal pembentukan budaya sekolah. Karena itu, para taruna juga diberikan peran untuk melakukan pembinaan preventif agar tidak muncul praktik senioritas, intimidasi, maupun bentuk perundungan lain yang dapat mengganggu proses tumbuh kembang peserta didik. Pendekatan ini dipilih karena pemerintah ingin memastikan bahwa kehidupan berasrama menjadi ruang pembelajaran sosial yang positif, bukan sumber tekanan psikologis bagi siswa.

Menteri Sosial, Saifullah Yusuf sebelumnya juga menekankan bahwa Sekolah Rakyat dibangun bukan hanya untuk memperluas akses pendidikan, tetapi menjadi instrumen mobilitas sosial yang mampu membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu memperoleh kesempatan berkembang secara lebih optimal. Dalam kerangka tersebut, penguatan karakter dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari penguatan kualitas pendidikan. Pemerintah ingin memastikan bahwa siswa tidak hanya memperoleh fasilitas belajar, tetapi juga tumbuh dalam lingkungan yang mampu membentuk kepercayaan diri, kedisiplinan, kemampuan hidup mandiri, dan kesiapan menghadapi masa depan.

Program pendampingan taruna juga memiliki landasan kebijakan yang terhubung dengan agenda pengentasan kemiskinan dan pembangunan manusia. Pemerintah menempatkan Sekolah Rakyat sebagai bagian dari pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang optimalisasi pengentasan kemiskinan dan penghapusan kemiskinan ekstrem. Dalam konteks tersebut, pendidikan dipandang sebagai instrumen strategis untuk membuka kesempatan yang lebih luas bagi kelompok rentan sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam jangka panjang.

Dari sisi pendidikan karakter, keterlibatan unsur pendamping yang memiliki pengalaman hidup kolektif dan disiplin juga dinilai dapat memperkaya metode pembelajaran di luar ruang kelas. Pemerintah menilai bahwa pembentukan karakter membutuhkan teladan dan pengalaman langsung yang dapat diterapkan dalam keseharian siswa. Karena itu, program pendampingan dirancang berlangsung secara intensif dan dekat dengan aktivitas sehari-hari siswa agar proses pembelajaran berlangsung lebih natural dan efektif.

Pelibatan taruna Akmil dalam Sekolah Rakyat menunjukkan arah baru pembangunan pendidikan yang semakin menekankan keseimbangan antara penguatan akademik dan pembentukan karakter. Pemerintah optimistis bahwa lingkungan belajar yang aman, bebas perundungan, dan mendukung kemandirian akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan peserta didik. Melalui kolaborasi lintas sektor antara pendidikan, sosial, dan pembinaan karakter, Sekolah Rakyat diharapkan tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga menjadi tempat tumbuh bagi generasi yang lebih percaya diri, mandiri, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

)* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.