Pemerintah Siapkan Langkah Antisipatif Hadapi Dampak Krisis Iklim pada Pertanian

oleh -3 Dilihat
banner 468x60

Jakarta – Pemerintah mempercepat berbagai langkah mitigasi untuk menghadapi potensi dampak krisis iklim terhadap sektor pertanian nasional. Antisipasi dilakukan sejak dini melalui penguatan infrastruktur irigasi, percepatan program pompanisasi, serta pemanfaatan teknologi pertanian agar produksi pangan tetap terjaga di tengah ancaman musim kemarau dan fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi pada 2026.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah memilih mengambil langkah preventif sebelum dampak kekeringan meluas. Menurutnya, pengalaman menghadapi El Nino pada tahun-tahun sebelumnya menjadi pelajaran penting bahwa mitigasi harus dilakukan sejak awal agar petani tidak kehilangan musim tanam dan target swasembada pangan tetap terjaga.

banner 336x280

“Kita harus bergerak sebelum kekeringan meluas. Jangan sampai petani kehilangan musim tanam. Karena itu kami mempercepat berbagai langkah mitigasi, salah satunya melalui gerakan pompanisasi agar air tetap tersedia dan produksi pangan tetap aman,” ujar Amran.

Selain mempercepat penyaluran pompa air, pemerintah juga melakukan rehabilitasi jaringan irigasi, optimalisasi lahan, serta pemanfaatan teknologi pertanian untuk menjaga produktivitas. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah dinamika perubahan iklim.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengingatkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan menghadapi musim kemarau yang lebih kering akibat penguatan fenomena El Nino.

Berdasarkan pemantauan BMKG, curah hujan di banyak wilayah diproyeksikan berada di bawah kondisi normal pada periode Juli hingga Oktober 2026 sehingga sektor pertanian perlu meningkatkan kesiapsiagaan.

“Pada periode Juli hingga Oktober 2026 nanti, lebih dari 80 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal. Adapun puncak musim kemarau diproyeksikan akan terjadi pada kisaran bulan Juli hingga September,” kata Ardhasena.

BMKG juga mengimbau petani dan pemerintah daerah melakukan berbagai langkah adaptasi, mulai dari penyesuaian jadwal tanam, penggunaan varietas tanaman yang tahan kekeringan, hingga diversifikasi komoditas pangan. Informasi prakiraan iklim akan terus diperbarui secara berkala agar dapat menjadi dasar pengambilan keputusan di lapangan.

“Bagi sektor pertanian, beberapa langkah yang sangat penting untuk segera diterapkan antara lain penyesuaian jadwal tanam, optimalisasi penggunaan varietas tanaman yang tahan terhadap kondisi kering serta berumur genjah, hingga pelaksanaan diversifikasi tanaman pangan,” pungkasnya. (*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.