MUI: Ramadan Momentum Menanam Toleransi dan Menangkal Radikalisme di Era Digital

oleh -6 Dilihat
banner 468x60

Jakarta – Semangat toleransi beragama di Indonesia dinilai tetap kuat secara kultural, meskipun terdapat tantangan baru di era digital yang ditandai dengan meningkatnya polarisasi opini di media sosial.

Anggota Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita, menilai bahwa tradisi toleransi sebenarnya telah menjadi bagian dari warisan peradaban bangsa Indonesia sejak lama.

banner 336x280

Masyarakat Indonesia sejak dahulu hidup dalam keberagaman yang terbangun dari nilai saling menghormati antarumat beragama. Namun, menurutnya, dinamika komunikasi digital membuat praktik toleransi tidak lagi hanya terjadi dalam interaksi fisik, tetapi juga dalam ruang virtual yang penuh arus informasi.

“Toleransi beragama di Indonesia sebenarnya bukan hal baru. Itu adalah warisan peradaban kita. Masyarakat sejak dulu hidup dengan keberagaman dan nilai saling memahami antar manusia. Namun hari ini tantangannya bukan hanya hidup berdampingan secara fisik, tetapi juga berdampingan di era media sosial, di mana perbedaan sering kali diprovokasi dalam ruang digital,” ujar Rabicha.

Ia menambahkan bahwa toleransi di era digital menuntut kedewasaan masyarakat dalam menyaring informasi keagamaan. Dalam pandangannya, toleransi saat ini bukan sekadar sikap sosial, melainkan juga kemampuan literasi informasi agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam narasi provokatif yang memicu konflik identitas.

Momentum bulan suci Ramadan, lanjut Rabicha, menjadi ruang spiritual yang sangat relevan untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai moderasi beragama dan pengendalian diri. Ia menegaskan bahwa makna puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan ego, amarah, dan kebencian yang kerap menjadi sumber perpecahan di tengah masyarakat.

“Ramadan adalah momentum menahan diri, bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari amarah, kebencian, dan kesombongan. Justru di bulan inilah masyarakat dapat menumbuhkan nilai toleransi dan moderasi beragama dengan menahan diri untuk tidak mengujar kebencian,” jelasnya.

Di sisi lain, Rabicha juga mengingatkan bahwa generasi muda saat ini menghadapi ancaman penyebaran paham radikalisme yang semakin kompleks, terutama melalui media sosial.

Menurutnya, kelompok usia muda sering menjadi sasaran karena berada pada fase pencarian identitas dan makna hidup. Kondisi tersebut kerap dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk menyebarkan ideologi sempit yang berpotensi memicu radikalisme.

“Radikalisme bukan lahir dari agama yang dalam, tetapi dari pemahaman agama yang sempit. Hari ini propaganda radikal tidak selalu datang dari mimbar, tetapi sering muncul dari algoritma media sosial yang tanpa sadar membentuk cara berpikir generasi muda,” katanya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya literasi digital, pendampingan orang tua, serta peran lembaga pendidikan dalam membangun kesadaran kritis generasi muda. Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan berbagai upaya pemerintah dalam memperkuat moderasi beragama serta menjaga stabilitas sosial di tengah masyarakat yang majemuk.

Rabicha juga mendorong generasi muda untuk lebih selektif dalam memilih sumber informasi keagamaan di media sosial. Ia menyarankan agar generasi muda mengikuti akun-akun yang memiliki legitimasi akademik dan terafiliasi dengan institusi keagamaan yang kredibel agar algoritma digital tidak mengarahkan mereka pada konten yang menyesatkan.

Rabicha berharap generasi muda Indonesia mampu memadukan kedalaman iman dengan sikap kritis dan hati yang terbuka agar nilai toleransi tetap terjaga di tengah dinamika zaman.

“Generasi muda hari ini hidup di era yang sangat cepat. Karena itu kita perlu kembali pada pesan spiritual Ramadan, yaitu mengendalikan diri sebelum menghakimi orang lain. Jika generasi muda mampu memadukan iman yang dalam, pikiran yang kritis, dan hati yang luas, maka kita tidak hanya menjaga toleransi, tetapi juga menjaga masa depan bangsa,” tutupnya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.