Jakarta – Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi instrumen strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam memperkuat program prioritas nasional selama dua tahun terakhir.
Selain menjaga stabilitas ekonomi dan fiskal, anggaran negara diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas akses layanan dasar, serta mendorong produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.
Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, mengatakan dua tahun pemerintahan menjadi momentum untuk mengevaluasi kebijakan yang telah berjalan sekaligus melihat arah pembangunan ke depan. Ia menilai transisi pemerintahan berlangsung lancar, disertai penyesuaian dan efisiensi anggaran agar belanja negara semakin selaras dengan prioritas pembangunan.
“Secara ringkas, pertama ada transisi yang sangat lancar, sangat smooth ketika Presiden Prabowo memulai pemerintahan Kabinet Merah Putih,” kata Suahasil.
Menurut Suahasil, efisiensi anggaran tidak berarti menghentikan dukungan terhadap pembangunan. Pemerintah tetap mengalokasikan APBN untuk membiayai program unggulan, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Salah satunya melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah menjangkau 56,99 juta penerima manfaat hingga 31 Agustus 2026.
“APBN hadir untuk memastikan prioritas pembangunan pemerintah dapat berjalan dan manfaatnya dirasakan masyarakat. Kita tidak hanya berbicara mengenai angka dalam APBN, tetapi bagaimana setiap rupiah yang dibelanjakan negara dapat memperkuat kualitas manusia, meningkatkan produktivitas, dan pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” ujar Suahasil.
Penguatan kualitas sumber daya manusia tersebut juga tercermin dalam program pendidikan yang dijalankan Kementerian Agama. Staf Khusus Menteri Agama, Gugun Gumilar, mengatakan pembangunan nasional tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada peningkatan kecerdasan, kesejahteraan, dan kerukunan masyarakat.
“Yang dibangun Presiden Prabowo bukan hanya jalan dan gedung, tapi yang paling utama adalah manusia Indonesia yang cerdas, sejahtera, dan rukun. Itulah fondasi sejati menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Gugun.
Sepanjang 2025–2026, sebanyak 5.180.170 siswa menerima Program Indonesia Pintar dengan anggaran Rp4,038 triliun. Selain itu, 289.255 mahasiswa memperoleh Kartu Indonesia Pintar Kuliah senilai Rp3,032 triliun.
Capaian tersebut menunjukkan komitmen pemerintahan Prabowo-Gibran dalam mengoptimalkan APBN untuk mendukung program prioritas nasional, khususnya peningkatan kualitas sumber daya manusia. (*)











