CKG Perkuat Deteksi Dini Hipertensi Anak demi Kesehatan Berkualitas

oleh -3 Dilihat
banner 468x60

Jakarta – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dijalankan pemerintah mengungkap temuan mengejutkan terkait kondisi kesehatan anak usia sekolah di Indonesia. Berdasarkan hasil skrining periode 1 Januari hingga 3 Mei 2026, ratusan ribu anak diketahui mengalami tekanan darah tinggi. Temuan tersebut dinilai menjadi alarm serius pentingnya penguatan layanan kesehatan berkualitas sejak usia dini.

Kepala Badan Komunikasi RI, Muhammad Qodari, mengatakan sebanyak 22,1 persen atau sekitar 663 ribu dari total 4,8 juta anak yang diperiksa tercatat mengalami peningkatan tekanan darah. Pemeriksaan dilakukan di sekitar 48 ribu sekolah di berbagai daerah di Indonesia.

banner 336x280

Menurutnya, temuan tersebut menjadi perhatian serius karena hipertensi pada usia anak dapat berkembang menjadi penyakit kronis di masa depan, termasuk gangguan jantung dan pembuluh darah. Ia menilai banyak kasus kesehatan anak yang selama ini tidak terdeteksi karena tidak menunjukkan gejala.

“Kalau tidak ada CKG ini, kami tidak tahu. Ini harus dianalisis lebih dalam, kenapa anak-anak itu sudah mengalami tekanan darah tinggi,” katanya.

Qodari menjelaskan, program CKG dirancang untuk memperluas akses pemeriksaan kesehatan, terutama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang belum memiliki kebiasaan pemeriksaan rutin. Melalui kerja sama sekolah dan puskesmas, pemerintah kini memiliki basis data kesehatan siswa yang lebih sistematis.

“Melalui CKG, pemerintah memperoleh data kesehatan siswa secara lebih sistematis, dan data ini menjadi dasar untuk merancang intervensi yang lebih tepat, baik di sektor pendidikan maupun di kesehatan,” terang Qodari.

Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI, Ashabul Kahfi, meminta agar temuan tersebut tidak berhenti sebagai angka statistik semata. Ia mendorong Kementerian Kesehatan untuk melakukan pemetaan mendalam mengenai penyebab meningkatnya kasus tekanan darah tinggi pada anak.

Ia juga menegaskan bahwa hasil CKG merupakan skrining awal sehingga masih memerlukan validasi medis, pemeriksaan lanjutan, serta pemantauan melalui fasilitas kesehatan seperti puskesmas.

Ashabul menilai sekolah harus menjadi pusat pembiasaan hidup sehat, bukan sekadar lokasi pemeriksaan kesehatan. Anak-anak yang terdeteksi berisiko juga perlu mendapat pemantauan rutin dan rujukan medis apabila diperlukan.

“Justru di sinilah pentingnya CKG. Tanpa skrining, kita mungkin tidak tahu ada masalah kesehatan tersembunyi pada anak-anak kita,” pungkasnya.

Temuan dalam program CKG tersebut memperlihatkan pentingnya penguatan sistem kesehatan preventif di Indonesia. Deteksi dini dan edukasi gaya hidup sehat dinilai menjadi langkah krusial agar generasi muda terhindar dari ancaman penyakit degeneratif di masa depan. (*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.