Sidak Ramadan Kawal Ketersediaan Komoditas Strategis

oleh -1 Dilihat
banner 468x60

Oleh : Abdul Razak )*

Pemerintah pusat hingga daerah memperkuat pengawasan harga, pasokan, dan keamanan pangan selama Ramadan 1447 H. Langkah ini dilakukan untuk memastikan lonjakan permintaan pada momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) tidak memicu gejolak harga maupun peredaran pangan yang tidak memenuhi standar kesehatan. Sejumlah pejabat turun langsung ke pasar tradisional dan sentra jajanan takjil guna memastikan stabilitas pasokan serta perlindungan konsumen tetap terjaga.

banner 336x280

Di Pasar Jonggol, Bogor, yang menjadi pasar penyangga bagi wilayah Bogor, Bekasi hingga Jakarta, Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Sarwo Edhy melakukan inspeksi mendadak untuk memantau harga dan distribusi komoditas strategis. Ia menegaskan selama Ramadan pemerintah tidak boleh lengah dan harus memastikan harga tetap terkendali serta distribusi berjalan lancar. Jika ditemukan ketidaksesuaian di lapangan, pihaknya akan langsung melakukan pembenahan.

Berdasarkan hasil pemantauan, mayoritas harga pangan terpantau relatif stabil. Beras medium lokal berada di kisaran Rp13.000 per kilogram dan beras premium Rp14.500 per kilogram. Bawang merah dijual sekitar Rp40.000 per kilogram dan bawang putih Rp36.000 per kilogram. Untuk komoditas protein hewani, daging ayam ras berada di rentang Rp40.000–42.000 per kilogram, telur ayam Rp30.000–32.000 per kilogram, daging sapi lokal Rp130.000–140.000 per kilogram, serta daging sapi impor sekitar Rp120.000 per kilogram. Sementara gula kemasan dijual Rp19.000 per kilogram dan gula curah Rp18.000 per kilogram.

Seorang pedagang daging di Pasar Jonggol, Sahril, menyampaikan bahwa harga daging sapi masih bertahan di Rp140.000 per kilogram dan dapat diberikan Rp130.000 per kilogram bagi pembeli yang menawar karena pasokan diambil langsung dari rumah potong hewan terdekat. Kondisi ini menunjukkan rantai distribusi yang relatif pendek membantu menjaga harga tetap kompetitif. Konsumen pun merasakan stabilitas tersebut. Seorang pembeli, Yulis mengaku memilih pasar tradisional karena harga lebih bersaing. Ia berharap selama Ramadan harga kebutuhan pokok tidak mengalami kenaikan agar masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan tenang.

Namun demikian, perhatian khusus diberikan pada minyak goreng rakyat Minyakita yang masih dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 per liter. Di Pasar Jonggol, harga Minyakita ditemukan di kisaran Rp18.000–18.500 per liter. Sarwo Edhy menjelaskan kenaikan itu dipicu harga dari distributor yang sudah berada di angka Rp17.000–17.500 per liter sehingga pengecer sulit menjual sesuai HET.

Pemerintah telah menetapkan tata kelola harga Minyakita secara berjenjang dari produsen hingga pengecer. Bapanas bersama Satgas Pangan akan menelusuri rantai distribusi hingga ke hulu guna memastikan tidak ada penyimpangan. Sarwo Edhy menegaskan rantai distribusi harus jelas dan tidak boleh ada pihak yang bermain dalam komoditas kebutuhan pokok masyarakat.

Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman turut mengingatkan agar tidak ada pihak yang memanfaatkan Ramadan untuk memainkan harga. Ia meminta seluruh pelaku usaha mencari keuntungan secara wajar tanpa mengganggu masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa. Pemerintah, tegasnya, tidak akan mentolerir praktik pengambilan keuntungan berlebihan dari kebutuhan pokok rakyat.

Upaya pengawasan juga dilakukan oleh BUMN pangan. Direktur Utama Perum BULOG Ahmad Rizal Ramdhani melakukan sidak ke Pasar Johar, Pasar Kepanjen, dan Pasar Kanjengan di Semarang. Dari hasil pemantauan, harga beras premium tercatat Rp14.900 per kilogram, beras medium Rp13.500 per kilogram, dan beras SPHP Rp12.500 per kilogram. Harga daging sapi turun menjadi Rp130.000 per kilogram, daging ayam di kisaran Rp35.000 per kilogram, dan cabai merah sekitar Rp32.000 per kilogram. Rizal menyampaikan bahwa pengalaman menjaga stabilitas harga pada periode Natal dan Tahun Baru menjadi modal untuk memastikan kondisi tetap stabil selama Ramadan dan Idulfitri. BULOG ingin memastikan masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga wajar sesuai ketentuan serta menjamin kecukupan stok hingga hari raya.

Selain aspek harga dan pasokan, pengawasan keamanan pangan juga diperketat di berbagai daerah. Di Banda Aceh, Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal bersama Dinas Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Aceh melakukan sidak ke Pasar Takjil Ramadan di kawasan Baiturrahman. Tim melakukan pengambilan sampel dan uji cepat untuk mendeteksi kemungkinan kandungan formalin, boraks, maupun pewarna tekstil berbahaya.

Langkah serupa dilakukan Dinas Kesehatan Kota Pekalongan bersama 14 puskesmas yang melaksanakan sidak selama tiga hari dengan mengambil ratusan sampel jajanan takjil. Sanitarian Muda Dinkes Kota Pekalongan, Maysaroh, menjelaskan pengawasan rutin dilakukan karena masih ditemukan bahan kimia berbahaya pada sejumlah produk di tahun-tahun sebelumnya. Empat zat yang menjadi fokus pengawasan adalah formalin, boraks, Rhodamin B, dan Methanil Yellow.

Ia memaparkan formalin kerap disalahgunakan pada mie basah dan tahu agar tahan lama, boraks pada bakso dan jajan sempol untuk tekstur kenyal, serta pewarna tekstil pada jajanan dengan warna mencolok. Jika hasil uji cepat menunjukkan indikasi positif, sampel akan diuji ulang di laboratorium kesehatan daerah dan ditindaklanjuti hingga ke sumber produksi. Pedagang yang produknya dinyatakan aman akan diberikan stiker khusus sebagai bentuk apresiasi sekaligus informasi kepada konsumen.

Dengan pengawasan yang diperketat dan distribusi yang terkontrol, masyarakat diharapkan dapat menjalankan ibadah puasa dan menyambut Idulfitri dengan rasa aman, nyaman, serta terhindar dari gejolak harga maupun risiko pangan berbahaya.

)* Penulis adalah Analis Kebijakan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.